Berita

GIZIKU HEBAT: Gerakan Edukasi Gizi Seimbang melalui Variasi Konsumsi Sayuran dan Protein Hewani bagi Anak-Anak

  • 21-08-2026
  • gubugsari
  • 20

 

Author KKN Tim II UNDIP 2026


Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro mengajak anak-anak mengenal gizi seimbang melalui media permainan “Isi Piringku” di Desa Gubugsari, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal.

“Kalau yang ini masuk sayur atau lauk?” Pertanyaan sederhana seperti itu menjadi bagian dari kegiatan edukasi gizi yang dilakukan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro pada 31 Juli 2026 di Desa Gubugsari, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal. Alih-alih hanya mendengarkan penjelasan, anak-anak diajak mengenali makanan melalui gambar dan permainan “Isi Piringku”.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari GIZIKU HEBAT, gerakan edukasi gizi seimbang yang ditujukan bagi ibu dan anak. Program ini mengangkat pentingnya keberagaman makanan dalam menu sehari-hari, mulai dari makanan pokok, sayuran, buah-buahan, hingga sumber protein hewani.
Media “Isi Piringku” menjadi salah satu cara mahasiswa mengenalkan konsep tersebut kepada anak-anak. Berbagai gambar makanan ditempatkan pada papan permainan, kemudian peserta diajak memilih dan mengelompokkan makanan sesuai jenisnya. Ada nasi dan makanan pokok lainnya, sayuran, buah, serta lauk yang menjadi sumber protein.
Cara ini membuat pembahasan tentang gizi terasa lebih dekat dengan keseharian anak. Mereka bisa langsung melihat contoh makanan yang biasa ditemui di rumah, kemudian mengenali kelompok dan manfaatnya. Materi tidak berhenti pada pertanyaan tentang “makanan sehat”, tetapi juga membahas mengapa tubuh membutuhkan beragam jenis makanan.
Dalam materi yang diberikan, mahasiswa mengenalkan karbohidrat sebagai sumber energi, protein yang berperan dalam pembentukan dan pemeliharaan otot, serta vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh. Lemak juga dikenalkan sebagai salah satu sumber energi. Anak-anak kemudian diajak melihat bahwa satu jenis makanan saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh.
Pembahasan mengenai sayuran dan buah juga mendapat perhatian. Anak-anak diperkenalkan dengan berbagai pilihan pangan yang bisa dimasukkan ke dalam menu sehari-hari. Sementara untuk protein hewani, mahasiswa mengenalkan beberapa sumber seperti ikan, telur, dan bahan pangan lainnya. Salah satu media edukasi bahkan secara khusus memuat informasi mengenai manfaat konsumsi ikan sebagai bagian dari upaya pencegahan stunting.
Agar materi bisa digunakan kembali setelah kegiatan berlangsung, mahasiswa menyiapkan sejumlah media edukasi. Di antaranya ada leaflet berbasis SDGs, poster informasi, media permainan “Isi Piringku”, buku saku berisi checklist harian catatan nutrisi, serta media bilingual “Healthy Food Coins” yang dapat dimanfaatkan dalam kegiatan edukasi di sekolah. Selain itu, mahasiswa juga menyiapkan flashcard bilingual yang memuat nama berbagai bahan makanan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, disertai informasi mengenai manfaatnya, sehingga dapat digunakan sebagai media pembelajaran kosakata sekaligus pengenalan makanan bergizi bagi siswa.
Mahasiswa juga menyusun SOP pelaksanaan edukasi gizi, lembar checklist kegiatan, lembar evaluasi, dan panduan penggunaan media. Perangkat tersebut dapat menjadi pegangan bagi kader Posyandu ketika ingin melanjutkan kegiatan edukasi dengan media yang telah dibuat.
Pemahaman peserta juga tidak hanya dilihat dari keaktifan selama kegiatan. Program ini dilengkapi dengan pre-test dan post-test untuk mengetahui perubahan pengetahuan sebelum dan setelah edukasi. Hasil evaluasi kemudian menjadi bahan analisis untuk melihat perkembangan program sekaligus menyusun rekomendasi keberlanjutan edukasi gizi di Desa Gubugsari.
GIZIKU HEBAT juga mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 2: Tanpa Kelaparan dan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Edukasi tentang keberagaman pangan, sayuran, buah, dan protein hewani dikaitkan langsung dengan kebiasaan makan sehari-hari. Melalui permainan, kartu bergambar, poster, dan berbagai media edukasi yang disiapkan, kegiatan gizi di Desa Gubugsari berlangsung dengan pendekatan yang lebih interaktif. Media yang telah dibuat juga dapat digunakan kembali oleh ibu, kader Posyandu, maupun lingkungan sekolah untuk mendukung kegiatan edukasi gizi selanjutnya.

Share :